“Kalau kamu bukan anak raja, dan kamu bukan anak seorang ulama besar, maka jadilah penulis” (Imam Al Ghazali) “Peluru hanya bisa menembus satu kepala, tetapi tulisan bisa menembus jutaan kepala.” (Sayyid Qutb) “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” (Pramoedya Ananta Toer)
Selasa, 24 September 2013
Peranku Bagi Indonesia (essay untuk aplikasi beasiswa LPDP)
Indonesia adalah negara istimewa. Setidaknya hal ini baru saya sadari setelah duduk dibangku kuliah tahun kedua dimana saya banyak membaca tulisan para bapak bangsa di perpustakaan tempat saya kuliah dulu. Diantaranya seperti tulisan Soekarno, Hatta, Tan Malaka, Agus Salim, dan Moh Yamin. Dengan membaca tulisan-tulisan mereka, tombol nasionalisme didalam diri saya seakan dihidupkan kembali. Dan sejak saat itu, saya terus mempelajari alasan republik ini berdiri. Tulisan bung Karno dan Tan Malaka banyak mempengaruhi jiwa saya dalam berpikir tentang masa depan republik ini. Ajaran bung Karno untuk berdiri diatas kaki sendiri, penguasaan modal-modal produksi dan pengelolaan sumber daya alam dan energi terus membius cita-cita saya. Apa yang dicita-citakan bung Karno sesungguhnya tidaklah berbeda jauh dengan apa yang diinginkan Tan Malaka dalam membangun Indonesia. Kemandirian nasional harus diutamakan dengan mengelola secara mandiri industri-industri strategis, seperti energi, pertanian dan kelautan.
Pada dua pekan yang lalu, 18-20 Agustus 2013, saya ikut menghadiri perhelatan tiga hari Indonesia Diaspora Network (IDN). Menurut definisnya, Diaspora berarti sekumpulan kecil masyarakat yang berasal dari tanah kelahiran yang sama atau dengan kata lain dapat didefinisikan sebagai masyarakat Indonesia yang bekerja atau menetap di luar negeri yang memiliki semangat untuk berkontribusi, sumbangsih konkrit, demi kemajuan Indonesia. Acara IDN tersebut dihadiri tidak kurang dari 7000 diaspora yang berasal dari 55 cabang diaspora di 26 negara dan juga dihadiri oleh partisipan dari dalam negeri. Selama tiga hari IDN telah menghasilkan banyak resolusi yang terbagi dalam 11 gugus kerja (task force). Diantaranya yang saya hadiri adalah bidang energi dan bidang ekonomi hijau.
Adapun resolusi task force yang dihasilkan pada bidang Energi yaitu; pertama, membentuk Indonesian Diaspora Energy Professional Network sebagai platform kolaborasi bersama seluruh stakeholder untuk saling berbagi informasi, solusi dan best practice bagi para diaspora yang memiliki kepakaran di bidang energi: minyak, gas, batubara, panas bumi serta energi baru dan terbarukan. Kedua, Membantu mendorong peningkatan investasi dalam sektor energi di Indonesia. Ketiga, Mendorong pengembangan bisnis, pendidikan dan ketrampilan dalam hal energi rendah karbon seperti melalui Clean Development Mechanism. Sementara resolusi task force untuk bidang Ekonomi Hijau ialah Mendukung gerakan penghijauan di Jakarta dan kota lain di Indonesia, dan peningkatan investasi di bidang terkait ekonomi hijau di Indonesia dan sektor panas bumi.
Saya tertarik kepada, terutama, dua bidang tersebut karena dua hal inilah yang menjadi kunci bagi kemajuan suatu bangsa, yakni, kebutuhan energi dan pembangunan yang berkelanjutan. Mengingat hasil kajian pada Indonesian Institute for Energy Economics (IIEE) pimpinan Prof. Subroto (ketua IIEE dan ex-menteri ESDM 1978) mengatakan bahwa untuk setiap pertumbuhan ekonomi 1 % per tahun, akan membutuhkan pertumbuhan energi 1.3 % per tahun.
Pertumbuhan ekonomi kita saat ini masih di kisaran 6 %. Oleh karenanya perlu kerja lebih keras untuk mencapai pertumbuhan hingga dua-digit. Sementara, pada saat yang sama, kita dihadapi pada krisis energi dan kerusakan lingkungan. Jawabannya tentu mengelaborasi energi yang ramah lingkungan yang kita miliki.
Dengan kondisi yang krisis energi dimana Indonesia (pada hari ini) mengimpor minyak sebanyak 2/3 kebutuhan nasionalnya, yakni sekitar satu juta barel per hari dengan total subsidi BBM 300 Trilyun per tahun. Sementara, energi fosil masih mendominasi 85 % pada bauran pemakaian energi dalam energi. Hal ini tidak bisa selamanya kita biarkan, harus ada langkah persiapan yang mulai dibangun dari sekarang sehingga pada saatnya nanti negara tidak kehilangan momentum dalam mempersiapkan diri akan kebutuhan energi masa depan. Energy terbarukan, bukan lagi dijadikan sebagai alternatif, tetapi sudah menjadi suatu keharusan.
Ada banyak pilihan teknologi energy terbarukan yang dapat di optimalkan negara ini. Geothermal, biomassa, Hydropower, solar power. Saya memilih untuk fokus kepada energy terbarukan, terutama energy surya, karena dengan semakin berkurangnya energy fosil adalah pertanda bahwa dimulainya era energi terbarukan. Apabila kita lihat di beberapa negara maju, sudah bersiap-siaga dalam menyongsong era ini. Energy surya yang setiap hari dan sepanjang tahun dimiliki republik ini, belum mendapatkan porsinya yang optimal (baru dimanfaatkan 0.5 % berdasarkan data dari bauran energy Indonesia). Kita dapat mencontoh Jerman dalam memanfaatkan energi ini yang mayoritas penggunaanya sudah off-grid. Sebanyak 60 % pemanfaatannya berada diatas atap rumah penduduk.
Selesai studi nanti, dengan bekal networking internasional dan pengetahuan di dunia riset yang nantinya saya miliki, saya akan membawa bekal tersebut untuk membangun industri solar power di Indonesia, baik itu sebagai pusat risetnya maupun manufakturnya. Karena di masa depan, bisnis energi terbarukan juga merupakan salah satu lahan usaha yang akan menyerap banyak tenaga kerja dan itu sudah terbukti di beberapa negara akhir-akhir ini.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar